Monday, February 20, 2012

Ulah TKI di Arab Saudi

ilustrasi
Satu hal yang saya ingat, kebanyakan masyarakat selalu meneriakkan bahwa pemerintah bersalah atas kekerasan yang menimpa sejumlah Pembantu Rumah Tangga (PRT) yang bekerja di luar negeri. Atau kita mungkin lebih familiar dengan Tenaka Kerja Indonesia (TKI) dibanding PRT. 

Berbeda dengan para TKI, satu yang mereka ingat, bahwa mereka adalah pejuang devisa yang menyumbangkan pundi-pundi rupiah yang tidak sedikit kepada negara, namun tidak banyak kepada keluarganya.

Bercerita masalah pejuang devisa, bagi saya banyak hal yang menarik untuk dilihat dari sisi-sisi lain. Pada halaman ini, saya berpikir cukup perlu untuk menuliskan sebuah kisah dari Arab Saudi yang akan sangat sayang jika tidak saya tularkan.

Pada hari Sabtu (11/2), bersama rekan-rekan LSM dari berbagai daerah Indonesia, saya mengikuti Workshop yang diadakan Human Rights Working Group (HRWG) di Jogja. Workshop tersebut membahas dua isu penting tentang Advokasi Hak Azazi Manusia Asean dan Organisasi Kerjasama Islam yang skopnya adalah 57 negara, salah satunya adalah Arab Saudi.

Sampai pada satu jeda, perbincangan mengarah pada cerita seorang buruh migran/TKI yang bekerja di Arab saudi. 

”Ketika penerbangan Arab Saudi-Indonesia, sebagai orang yang dianggap penting, Alhamdulillah saya dibelikan tiket pesawat super eksekutif oleh lembaga terkait di Arab Saudi. Bangku saya bernomor 1A. Dari nomornya saja, bangku ini sudah terlihat melambangkan prestise dan harganya. Jika dirupiahkan, kira-kira harga satu bangku tersebut mencapai angka 20jutaan. 

Bangku disebelah saya bernomor 1B. Nomor bangku yang tidak kalah fantastisnya dengan nomor bangku saya. Tapi siapa yang menyangka, bangku senilai 20jutaan itu diisi oleh seorang TKI. Sebut saja namanya Ayu, yang juga hendak terbang ke Indonesia. 

Aneh saja, bagi seorang TKI yang mau membeli tiket penerbangan dengan harga yang fantastis. Sebagai TKI, tentu saja seharusnya ia bisa memilih penerbangan lain yang secara ekonomis jauh lebih murah.

Lambat laun, Ayu mulai bercerita bahwa tiket penerbangannya sekarang secara keseluruhan dibiayai oleh majikannya di Arab Saudi. Ayu mengaku bahwa dirinya tidak betah bekerja sebagai TKI dan ingin meminta pulang. Dengan alasan sering sakit, jarang mendapat perhatian, dan ”tidak boleh mandi”, Ayu yang baru bekerja selama 3 bulan, memberanikan dirinya meminta pulang ke kampung halaman.

Kepulangan Ayu dengan berbagai alasan tersebut, membuat saya berpikir apakah ayu mendapatkan kekerasan selama bekerja. Usut punya usut, rupanya kepulangan Ayu adalah permasalahan sepele yang tidak ada hubungannya dengan faktor kekerasan atau kesalahan majikan.

Saya masih ingat, memang beberapa bulan terakhir ini, cuaca Arab Saudi memasuki musim dingin yang sudah dibawah batas normal. Untuk menghindari datangnya penyakit dan hal-hal yang tidak diharapkan, majikan Ayu lantas melarang Ayu untuk tidak mandi selama musim dingin.Ayu yang tidak mengenali medan dan keterbatasan pengetahuan, tidak mengindahkan saran majikannya. Ayu tetap bersikeras untuk selalu mandi layaknya di Indonesia. Akhirnya Ayu jatuh sakit. Namun tetap saja Ayu ingin tetap mandi. Sebagai solusinya, Ayu disuruh majikannya untuk mandi dengan air hangat. Namun Ayu berdalih tidak biasa mandi dengan air hangat. Bagi Ayu mandi dengan air dingin lebih sehat seperti saat masih di kampung.

Karena merasa sudah tidak betah, Ayu akhirnya meminta pulang majikannya pada hari itu juga. Ayu mendesak. Ayu bersikeras meminta pulang kepada majikannya. Singkat cerita, si majikan pun memulangkan Ayu pada hari itu juga dengan kesepakatan, bahwa Ayu akan dipulangkan hari itu juga. Namun Ayu tidak akan menerima sepeserpun dari gajinya, karena gaji Ayu akan digunakan si majikan untuk membeli tiket pulang ke Indonesia. Dan saat membeli tiket, tiket hari itu yang tersisa hanya untuk bangku bernomor 1B. Tanpa pikir panjang lagi, si majikan membelinya dan memulangkan Ayu. Ayu senang, karena majikannya membolehkannya untuk pulang. Dan hal lain yang membuat Ayu lebih senang adalah, di kampung Ayu akan bisa mandi setiap hari, dan tentu tidak seperti di tempat kerjanya dulu, Arab Saudi.”

Dari cerita yang saya sajikan di atas, apa yang terpikir di pikiran anda?

Kalau ada menjawab itu adalah masalah kurangnya kualitas pendidikan dan persiapan sebagai TKI, maka saya akan sepakat dengan apa yang anda pikirkan.

http://www.kompasiana.com/fadhlibull.blogspot.com


Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment